Jumat, 15 Mei 2015

Curahan hati anak korban Broken Home

Cinta itu buat gue adalah sesuatu hal yang berharga. Kenapa?? Pasti orang-orang bakal nanya begitu. Simple. Gue salah satu anak dari puluhan ribu atau mungkin bahkan jutaan anak korban broken home. Impian gue sederhana tapi ga mungkin bisa jadi nyata. Gue pengen suatu saat orang tua kandung gue bisa bareng lagi. Walau gue nyadar pasti akan lebih banyak lagi yang terluka,tapi kenapa disini gue yang harus ngalah?? Kenapa mereka semua bisa bahagia,tapi enggak dengan gue. Kenapa temen-temen gue yang punya kasih sayang cukup dari orang tua mereka malah banyak juga yang ngelunjak dan kurang ajar,sedangkan gue yang selalu ngehormatin orang tua gue malah harus hidup seperti ini...

Gue sadar gue ini bukan apa-apa,tapi gue pengen orang tua gue bangga punya gue. Gue pengen jadi seseorang yang di pandang orang meski gue kurang kasih sayang,gue pengen nunjukin ke dunia kalo anak korban broken home itu ga semuanya anak badung yang terperosok ke pergaulan bebas. Anak-anak korban broken home kayak gue adalah pencari perhatian. Ngelakuin hal-hal ga wajar biar orang tua kita liat kalo sebenernya kita ini terluka,kita butuh perhatian,kita butuh cinta dari mereka,dan kita ingin di mengerti. Dan kalau ga ada respon,frustasi itu selalu ada. Frustasi itu datang dan mencabik-cabik hati. Mungkin di sana banyak yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau minuman keras untuk melampiaskan kekecewaan. Gue sendiri pernah menelan 10 tablet paracetamol sekaligus di saat gue frustasi,dan nangis berjam-jam adalah hal biasa buat gue di saat gue masih ngga bisa menerima kenyataan kalo orang tua gue udah pisah dan punya keluarga masing-masing. Gue  selalu bilang ke Papah,"kenapa sih kalian cerai,kalo kalian ga cerai aku ngga bakal ngalamin kesedihan kayak gini,Mama sama Papah tuh ngga sayang ma aku,kalian cuma memikirkan perasaan kalian," dan tentu aja gue ngucapin kalimat itu via telfon karna Papa tinggal di pulau kecil bersama istrinya. Jawaban Papa simple,"kamu nanti pasti ngerti kenapa ini harus terjadi,kamu tau kan dulu gimana Papa mempertahankan semuanya,Papa kira kamu udah cukup besar untuk berpikir takdir ini,ingat nak apa yang kamu inginkan ga selamanya bisa tercapai."

Korban broken home adalah sebuah hati dengan luka yang tak akan bisa sembuh,tapi dengan seiring berjalannya waktu yang mungkin memerlukan waktu lama banget,dengan punya banyak temen-temen yang bisa bawa aura positif,dan yang paling penting adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah,luka itu akan sedikit terlupakan (bukan hilang). Gue sendiri walau sudah 12 tahun kejadian itu terjadi,gue masih suka nangis berjam-jam dan menyalahkan takdir. Gue adalah 1 dari jutaan anak yang mengalami hal kayak gini. Anak-anak broken home lain yang ngalamin hal kayak gue dan memilih hidup di jalan,mengkonsumsi obat-obatan,meminum miras,merokok dan mungkin yang ngelakuin seks bebas,mereka adalah seorang yang memerlukan perhatian lebih dan memilih cara yang salah. Tak ada kata terlambat,kalaupun ada yang sudah melakukan hal-hal tersebut,tinggalkan dan coba pilihlah jati diri kita. Kita masih bisa melakukan kegiatan positif,salurkan kekesalan hati yang mengganjal dengan cara positif,kita bisa menulis,melukis,menciptakan lagu,atau hal-hal positif lainnya. Jangan judge korban broken home,karna kami adalah anak yang juga ingin memiliki kebahagiaan seperti kalian.