Sana'a,30 February 2016
Sudah setahun sejak pernikahanku dengan Taufeeq,pemuda berkebangsaan Yemen yang telah merebut hatiku. Taufeeq adalah anak pertama dari istri kedua ayahnya. Di sebuah bangunan megah kota Sana'a itulah aku tinggal bersama suamiku,3 ibu mertuaku,ayah mertuaku,keluarga kakak dan adik Taufeeq,juga istri pertama Taufeeq. Aku menjadi istri keduanya setelah sebulan lebih dia menikah dengan istri pertamanya. Bukan,aku bukan perebut suami orang karna disini aku dan Taufeeq saling mencintai jauh sebelum perjodohannya dengan seorang anak pamannya sendiri. Taufeeq adalah seorang laki-laki yang tak akan pernah membangkang ibunya,begitu besar cintanya pada ibu sehingga dia bahkan mengorbankan perasaannya. Lalu kenapa aku tak meninggalkannya?? Itu karena sebuah janji yang aku sendiri tak bisa ingkari. Sebagai istri kedua,aku kerap mendapat perlakuan buruk dari istri pertamanya dan tentu tanpa sepengetahuan Taufeeq. Aku bahkan tak berniat mengadukan hal itu pada siapapun.
Ibu kandung Taufeeq yang awalnya dingin padaku,mulai bersikap baik bahkan kerap kali memuji masakanku. Aku bukan berasal dari Yemen,atau negara tetangga Yemen,aku berasal dari negara yang jauh dari Yemen. Indonesia. Perbedaan budaya,bangsa ataupun bahasa bukanlah penghalang cinta. Karena aku mencintainya saat aku merasakan betapa besar cintanya pada seorang ibu,dan betapa besar dia mencintai Allah. Aku yakin dia adalah seorang imam untukku yang akan menuntunku ke jalan menuju surga. Aku sendiri bukan seorang wanita yang agamis. Awalnya aku hanya seorang gadis masa kini yang gemar memakai baju mini. Diskotik menjadi tempat favoritku di saat malam tiba. Keluarga yang berantakan menjadi alasanku tak kerasan untuk tinggal di rumah. Dan karena itu pula aku bahkan menilai Allah tak adil padaku,karena aku tak memiliki kebahagiaan seperti teman-temanku. Sampai pada suatu ketika takdir mempertemukanku dengan Taufeeq yang membuatku kagum dan mulai mencintai Allah. Aku yang awalnya berlagak seolah aku adalah wanita muslimah yang memiliki banyak pengetahuan tentang Islam harus benar-benar mempelajarinya. Dan itulah yang membuatku semakin mencintai agamaku. Aku mulai berubah dengan tak lagi memakai pakaian mini dan tak lagi berkumpul dengan teman-temanku di diskotik.
"Karin,lo sombong sekarang," ucap Dea,saat tanpa sengaja kami bertemu di foodcourt mall.
"Sombong gimana sih,kalo gue sombong gue ga bakal nyapa lo kali," jawabku sekenanya sambil memainkan sedotan di es buahku.
"Lo ngapain sih sekarang pake jilbab segala,lepas ah lepas,lo gak gerah apa,"Zia ikut ngomong dengan gaya ceplas ceplosnya.
"Iya lo nih ngapain pake jilbab segala,kesambet apa sih lo??"
"Kalo gue pake jilbab,kalian gak ada hak buat nglarang gue,suka suka gue lah mau pake apa,badan badan gue sendiri," aku mulai kesal.
"Kita ada hak lah karna kita 1 genk,lo kalo mau pake jilbab itu artinya lo keluar dari genk kita," Bian mulai nyolot.
"Oke,no problem," aku meninggalkan mereka yang terbengong dengan sikapku.
Itulah saat terakhir aku bertemu dengan teman-temanku. Karena beberapa hari setelahnya mereka kedapatan memakai obat terlarang dan mengharuskan mereka tinggal di panti rehabilitasi.
Taufeeq selalu mengajarkanku untuk banyak membaca Al Quran,bahkan beberapa kali memintaku membacakan untuknya. Dan seringkali doa membetulkan bacaanku jika aku salah membaca. Sungguh tak pernah aku memiliki kekasih sepertinya. Dan saat pernikahan adalah saat cinta kami benar-benar di uji.
"Karin istriku,kamu betah kan tinggal disini??" Tanya Taufeeq setelah beberapa hari pernikahanku.
"Aku harap begitu suamiku," jawabku dengan senyum simpul.
"Sejak aku masih belajar di akademi Rusia sana,aku selalu menginginkan melihat senyuman ini secara langsung,dan aku bahagia karna aku sekarang melihatnya di depan mataku," ucapnya dengan pandangan penuh cinta, lalu memelukku erat.
"Aku juga selalu menginginkan melihatmu secara langsung,dan mencubit pipimu seperti ini," aku mulai jail dengan mencubit pipinya.
"Hey kamu mulai yah,dengarkan aku,kamu adalah kali pertama aku mencintai seorang wanita,dan kamu juga tau aku tak pernah mencintai istri pertamaku bahkan tak menyentuhnya hingga kini,Karin apapun yang terjadi nanti,kamu telah mengetahui isi hatiku, maka aku minta dengan sangat,bertahanlah denganku," ucapnya.
"Memang apa yang akan terjadi?? Kamu akan menikah lagi??"
"Sayang,kamu masih saja gila seperti saat kita pacaran dulu,untukku istriku hanyalah kamu,aku ada firasat buruk,aku takut kamu berhenti bertahan,tetaplah di sampingku,istriku," mata teduhnya merasuk ke dalam jiwaku,ya ada ketakutan disana,dan jelas terlihat olehku.
"Sayang,kamu tau juga kan bagaimana janji kita untuk selalu bersama,aku mencintai kamu bukan hanya beberapa tahun yang lalu,tapi untuk saat ini juga dan beberapa waktu yang akan datang hingga aku mati," jawabku.
Taufeeq mengecup dahiku dan tersenyum dengan senyuman mautnya. Senyuman yang beberapa waktu lalu hanya ku lihat dari sebuah gambar,saat ini senyuman itu telah menjadi milikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar