Teruntukmu yang hadir kini dalam hembusan nafasku. Engkau yang
datang menjelma sebagai insan yang Tuhan kirimkan untuk berada di sampingku.
Bukan lagi tentang masa lalu. Kau yang datang untuk menjadi sebuah masa depan,
sebuah cerita yang baru saja ku mulai. Bersamamu.
Mungkin aku bukanlah sosok wanita sempurna yang pantas
bersanding denganmu, namun ijinkan aku dengan segenap ketulusan yang mengalir
dalam denyut nadiku, untuk berdiri tegar bersamamu. Bukan untuk sekali atau dua
kali waktu, aku ingin berdiri tepat di sampingmu untuk selamanya, hingga Tuhan
memanggil salah satu di antara kita untuk pulang...
Mungkin aku bukanlah puisi yang indah untukmu, tapi sudikah
kau berjalan menggandeng tanganku di setiap alur waktu yang sudah Tuhan
takdirkan untuk kita. Bersamaku, bukan untuk sekedar lewati waktu yang membisu,
tapi menetaplah selamanya dalam istana hatiku, jadilah imam di setiap sholat
lima waktuku, atau jadilah seorang ayah untuk anak-anakku nanti. Dirimu.
Aku ingin menjadi awal dari akhirmu. Menjadi sebuah kisah
abadi yang kekal mencintamu menembus ruang dan waktu. Aku ingin ratusan bahkan
ribuan kali jatuh dalam peluk tenangmu, untuk sekedar bisikkan kata cinta yang selama ini membuatku terluka.
Engkaulah penawar rasa sakit yang mengubah jalan fikirku. Engkaulah candu
asmara yang membuatku rindu dalam setiap dekapmu. Engkaulah kata yang tak
sempat kuucap, engkau.
Setidaknya biarlah ku bisikkan kata rindu yang terus mengalir
di desiran darahku, ijinkanku tuk katakan pada angin yang berlalu betapa ingin
ku slalu di sampingmu, biarlah ku ceritakan pada sang rembulan yang masih
bersembunyi malu di balik awan hitam tentang kisah cinta kau dan aku. Ingin ku
hempaskan semua rasa yang kini dengan yakin menuju padamu, kekasihku. Ingin ku
tuliskan semua perasaan yang kini membuat hidupku menjadi berarti, ingin ku
nyanyikan nada indah yang tercipta dari setiap getarmu.
Aku hanyalah aku yang dengan
segenap kekuranganku mencintamu. Aku hanyalah aku yang kini berada jauh di
sudut kota yang sunyi. Aku hanyalah aku yang akan menangis saat perasaanku
terluka. Aku hanyalah aku yang dengan cerewet memintamu untuk lakukan hal yang
tak kau suka. Aku hanyalah aku yang terkadang cemberut memintamu menjadi yang
ku mau. Aku hanyalah aku, seorang yang
dengan setia akan menantimu. Aku.
Kau, kau adalah embun yang sejukkanku dari dendam yang
membutakan hati. Kau bukan lagi sebuah pelangi yang datang setelah hujan
terhenti lalu menghilang saat aku tengah menikmati keindahan di tujuh warnamu.
Kau adalah sebuah mentari yang hangatkan hari-hariku. Kau adalah segalanya,
tempatku labuhkan pencarian terakhir.
Kisah kita tlah di mulai. Kau, aku, kita.
Cikande, 20 Februari 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar