Cinta. Satu kata yang tersirat banyak makna. Tanpa cinta tak ada kehidupan. Begitulah kira-kira banyak orang berkata.
Sore ini aku ingin menangis begitu mendengar dari bibir Devan sendiri jika ia tlah mempunyai kekasih baru.
"Ga usah tunggu aku lagi,aku udah dapetin kebahagiaan aku dan aku harap kamu juga mendapat kebahagiaan yang sama."ujar Devan,yakin.
Aku hanya menggenggam erat tasku,meski hatiku hancur namun aku tetap bertahan dengan senyum palsu di bibirku. "Kalo gitu selamat yah,"ucapku getir.
"Yaudah aku pergi dulu ya,aku mau jemput pacarku dulu nih,bye" Devan pamit dan memamerkan deretan gigi putihnya.
Aku menggangguk lemah dan masih dengan senyum palsu yang tersungging.
Aku memesan kopi hitam tanpa gula dan menekan dadaku yang sesak. Ada butiran bening yang mengalir tanpa ku sadari,perih ku rasa semakin menusuk. Devan telah 2 kali mengakhiri hubungan cinta yang kami lalui. Dan selalu dia yang meninggalkanku namun entah kenapa aku tak mampu menatap masa depanku tanpa dirinya. Ku akui aku bodoh, karena aku tetap menunggu Devan bahkan setelah 3 bulan yang lalu dia mengakhiri hubungan kami tanpa alasan yang pasti.
Devan memang pria biasa,namun di mataku dia sangatlah istimewa. Dia mampu membuatku bangkit,mampu membuatku mengerti apa itu hidup,dia semangat yang mengalir dalam otakku.
"Mba ini pesanan kopinya,"ucap seorang waitress laki-laki dengan lesung pipi. "Loh mba nangis??"tanyanya terkejut.
Aku segera menghapus air mataku dan tersenyum simpul. "Enggak tadi kelilipan," aku mengelak dan tersenyum.
"Udah deh mba,santai aja ma saya,cerita aja mba siapa tau saya bisa bantu," ujarnya dan tanpa sungkan duduk di bangku sebelahku.
"Aku ngga knapa-napa kok,"aku masih berusaha menutupi bendungan air mata yang siap jebol di mataku.
"Kadang hidup emang berat mba,mba harus bertahan,mba lagi terlilit hutang yah??sama seperti saya mba kalo gitu,saya kerja sana sini sampe kerja part time buat lunasin hutang orang tua saya yang udah bangkrut,berat mba hidup kita,tapi kita harus bertahan,semangat mba semangat buat kita bayar utang-utang kita," laki-laki berlesung pipi ini berbicara dengan semangat.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Segera ku minum kopi tanpa gula yang tadi ku pesan, aku memang suka minum kopi jenis ini jika perasaanku sedang buruk.
"Mba,itu kopi enggak pahit?" Tanyanya dengan muka tak percaya.
"Lebih pahit hidup saya mas kayaknya," aku kembali tersenyum getir.
"Ya ampun mba harus strong mba,semangat mba," ucapnya lagi.
"Radiiiiittttttttt," teriak seorang pelayan wanita dengan muka ketus.
"Mba,saya kerja dulu ya,inget mba semangat," ucapnya dan tergopoh-gopoh pergi.
Aku menggeleng tak percaya menatap punggungnya pergi menjauh. Aku memang sering mendatangi cafe ini,namun baru kali ini aku melihatnya. Mungkin dia pegawai baru karena setiap hari aku kesini namun tak pernah melihatnya.
Aku mencintai Devan,walau aku tau sangatlah tak mungkin jika aku bisa kembali bersamanya. Devan telah miliki kekasih baru yang sudah pasti lebih baik dari aku. Aku harus melanjutkan hidup walau pada 2 tahun yang lalupun aku tetap tak bisa meninggalkan bayangan Devan. Aku sangat mencintainya,aku sungguh akan menanti dirinya,meski waktuku mungkin akan habis untuk menunggunya.
Aku memandang ke luar cafe yang penuh dengan lalu lalang kendaraan. Ku pandang laptop di depanku, sebuah foto Devan yang masih menjadi background laptop. Senja semakin menjauh,seperti Devan yang juga kembali meninggalkanku.