Jumat, 02 Oktober 2015

About me and you

Am not spesial girl. Am just innocent girl from small town who dream about you since meet you at chating. I know am stupid,how can am never meet you but love you,but this is true. After meet you,my life be more meant for me. Am meet one spirit in my life,am find happy in my heart.
After meet you,my bad habit changes. I dont know why,but you give me something who never people do for me,you make me aware to love God more and more.
Every pray am tell Allah about you,am tell Allah how much i love you,am tell Allah if you make me aware with all my mistake,am tell Allah about all of you.
But i cant tell one thing although Allah know my heart.
I wont tell Allah if you make me hurt,never.
I dont want u lose from my life,you my spirit,i dont want to life without you,i dont want you leave me,but what should i do?? Could you tell me what should i do??
I know am just an ordinary girl,i just one girl from small town on the corner of the island. Am not from rich family,am not beautiful i'm not smart,and i haven't anything. You is a high dream for me,i cant touch you,you moon in the night and sun in the day,i cant touch you.
When you will married with another girl,leave me,what should i do?? I cant do anything,i just cry alone,just fall in the deep sadness,just see in the mirror and must aware who am i,am just am ordinary girl.
I want tell you to not leave me,i want tell you to never married with another girl,but i can't. You must live your life,i dont want to hold you back from where you might belong...
I havent long age,my time short in this world,but am happy am ever meet lover like you. Am happy you ever love me,and ever meet in my short life,really am fall too deep in your heart,i cant give up and see another love,you the one love in my last life.
I've come and life in the world.
Okty Kurnia Ningsih.

Kamis, 06 Agustus 2015

Istri Kedua

Sana'a,30 February 2016

Sudah setahun sejak pernikahanku dengan Taufeeq,pemuda berkebangsaan Yemen yang telah merebut hatiku. Taufeeq adalah anak pertama dari istri kedua ayahnya. Di sebuah bangunan megah kota Sana'a itulah aku tinggal bersama suamiku,3 ibu mertuaku,ayah mertuaku,keluarga kakak dan adik Taufeeq,juga istri pertama Taufeeq. Aku menjadi istri keduanya setelah sebulan lebih dia menikah dengan istri pertamanya. Bukan,aku bukan perebut suami orang karna disini aku dan Taufeeq saling mencintai jauh sebelum perjodohannya dengan seorang anak pamannya sendiri. Taufeeq adalah seorang laki-laki yang tak akan pernah membangkang ibunya,begitu besar cintanya pada ibu sehingga dia bahkan mengorbankan perasaannya. Lalu kenapa aku tak meninggalkannya?? Itu karena sebuah janji yang aku sendiri tak bisa ingkari. Sebagai istri kedua,aku kerap mendapat perlakuan buruk dari istri pertamanya dan tentu tanpa sepengetahuan Taufeeq. Aku bahkan tak berniat mengadukan hal itu pada siapapun.

Ibu kandung Taufeeq yang awalnya dingin padaku,mulai bersikap baik bahkan kerap kali memuji masakanku. Aku bukan berasal dari Yemen,atau negara tetangga Yemen,aku berasal dari negara yang jauh dari Yemen. Indonesia. Perbedaan budaya,bangsa ataupun bahasa bukanlah penghalang cinta. Karena aku mencintainya saat aku merasakan betapa besar cintanya pada seorang ibu,dan betapa besar dia mencintai Allah.  Aku yakin dia adalah seorang imam untukku yang akan menuntunku ke jalan menuju surga. Aku sendiri bukan seorang wanita yang agamis. Awalnya aku hanya seorang gadis masa kini yang gemar memakai baju mini. Diskotik menjadi tempat favoritku di saat malam tiba. Keluarga yang berantakan menjadi alasanku tak kerasan untuk tinggal di rumah. Dan karena itu pula aku bahkan menilai Allah tak adil padaku,karena aku tak memiliki kebahagiaan seperti teman-temanku. Sampai pada suatu ketika takdir mempertemukanku dengan Taufeeq yang membuatku kagum dan mulai mencintai Allah. Aku yang awalnya berlagak seolah aku adalah wanita muslimah yang memiliki banyak pengetahuan tentang Islam harus benar-benar mempelajarinya. Dan itulah yang membuatku semakin mencintai agamaku. Aku mulai berubah dengan tak lagi memakai pakaian mini dan tak lagi berkumpul dengan teman-temanku di diskotik.

"Karin,lo sombong sekarang," ucap Dea,saat tanpa sengaja kami bertemu di foodcourt mall.
"Sombong gimana sih,kalo gue sombong gue ga bakal nyapa lo kali," jawabku sekenanya sambil memainkan sedotan di es buahku.
"Lo ngapain sih sekarang pake jilbab segala,lepas ah lepas,lo gak gerah apa,"Zia ikut ngomong dengan gaya ceplas ceplosnya.
"Iya lo nih ngapain pake jilbab segala,kesambet apa sih lo??"
"Kalo gue pake jilbab,kalian gak ada hak buat nglarang gue,suka suka gue lah mau pake apa,badan badan gue sendiri," aku mulai kesal.
"Kita ada hak lah karna kita 1 genk,lo kalo mau pake jilbab itu artinya lo keluar dari genk kita," Bian mulai nyolot.
"Oke,no problem," aku meninggalkan mereka yang terbengong dengan sikapku.

Itulah saat terakhir aku bertemu dengan teman-temanku. Karena beberapa hari setelahnya mereka kedapatan memakai obat terlarang dan mengharuskan mereka tinggal di panti rehabilitasi.

Taufeeq selalu mengajarkanku untuk banyak membaca Al Quran,bahkan beberapa kali memintaku membacakan untuknya. Dan seringkali doa membetulkan bacaanku jika aku salah membaca. Sungguh tak pernah aku memiliki kekasih sepertinya. Dan saat pernikahan adalah saat cinta kami benar-benar di uji.

"Karin istriku,kamu betah kan tinggal disini??" Tanya Taufeeq setelah beberapa hari pernikahanku.
"Aku harap begitu suamiku," jawabku dengan senyum simpul.
"Sejak aku masih belajar di akademi Rusia sana,aku selalu menginginkan melihat senyuman ini secara langsung,dan aku bahagia karna aku sekarang melihatnya di depan mataku," ucapnya dengan pandangan penuh cinta, lalu memelukku erat.
"Aku juga selalu menginginkan melihatmu secara langsung,dan mencubit pipimu seperti ini," aku mulai jail dengan mencubit pipinya.
"Hey kamu mulai yah,dengarkan aku,kamu adalah kali pertama aku mencintai seorang wanita,dan kamu juga tau aku tak pernah mencintai istri pertamaku bahkan tak menyentuhnya hingga kini,Karin apapun yang terjadi nanti,kamu telah mengetahui isi hatiku, maka aku minta dengan sangat,bertahanlah denganku," ucapnya.
"Memang apa yang akan terjadi?? Kamu akan menikah lagi??"
"Sayang,kamu masih saja gila seperti saat kita pacaran dulu,untukku istriku hanyalah kamu,aku ada firasat buruk,aku takut kamu berhenti bertahan,tetaplah di sampingku,istriku," mata teduhnya merasuk ke dalam jiwaku,ya ada ketakutan disana,dan jelas terlihat olehku.
"Sayang,kamu tau juga kan bagaimana janji kita untuk selalu bersama,aku mencintai kamu bukan hanya beberapa tahun yang lalu,tapi untuk saat ini juga dan beberapa waktu yang akan datang hingga aku mati," jawabku.

Taufeeq mengecup dahiku dan tersenyum dengan senyuman mautnya. Senyuman yang beberapa waktu lalu hanya ku lihat dari sebuah gambar,saat ini senyuman itu telah menjadi milikku.

Hari terakhir

Di sudut ruangan Key duduk di sofa dengan headset di telinganya dan mata yang asik memandang hp. Terkadang terdengar suara cekikikannya,dengan raut wajah bahagia bibirnya bersenandung lagu tentang cinta. Mama geleng-geleng melihat kelakuan anaknya,Key tetap cuek.

"Key,kamu asik banget sama Rahman,kalo Rahman ternyata punya pacar lagi gimana??" Tanya Mama.
"Ih Mama nih kok ngomongnya gitu,Rahman itu beda Ma dari cowok-cowok yang pernah Key kenal," ucap gadis itu sambil terus memandang hpnya.
"Yah namanya laki-laki apalagi kamu jauhan ma dia,yang deket aja belom tentu," Mama mengingatkan.
"Mah aku tau Rahman,kan dulu aku pernah sekelas ma dia,dia itu dingin ma cewek lain,aku beruntung pokoknya dapetin cinta Rahman," Key masih bersemangat.
"Kamu beneran cinta ma dia??"
"Sejak kapan aku ga serius,aku ngebayangin kalo aku nikah ma dia,pasti temen-temen geger deh,"
Ada genangan air mata yang terlihat mengambang di mata Mama, dengan cepat Mama mengalihkan matanya ke sudut lain lalu beranjak. "Yaudah kalo gitu,Mama doain deh Rahman beneran cinta ma kamu juga," ucap Mama akhirnya.
"Amin,hehehe" Key mengamini dengan wajah yang lucu.
Key terus memandang foto Rahman yang terpajang di hpnya. Dia terus tersenyum manis hingga setetes darah jatuh di layar hp miliknya. Tetes demi tetes darah terus menjatuhi layar hp hingga mulai menandai bercak merah di wajah Rahman. Key mengambil tisu di depannya lalu menyumpalkan ke hidungnya dan mengelap darah itu di layar hpnya.
"Wajah kamu kena darah aku,maaf yah," ucapnya.
"Kenapa Key?" Tanya Mama tiba-tiba datang.
"Gak knapa-napa kok Ma," ucap Key sambil menyembunyikan tisu dan wajahnya.

--------------------------------------------

Di tempat lain yang berjarak puluhan mil dari kota Key, Rahman keluar dari kantornya dengan wajah lesu. Rahman memandang kesal ke arah Jenny yang asik bercanda dengan kekasih barunya.
"Kenapa Man? Bete sekali muka kau itu," tanya Alex.
"Dia masih ngga nyadar yah dengan sikapku,"
"Hey bukannya kamu juga punya pacar??"
"Enggak aku ga punya,aku masih nunggu dia itu," Matanya mengarah ke Jenny.
"Kamu kalo malam kadang telfonan itu dengan siapa??"
"Oh,dia temen sekolahku dulu yang tergila-gila ma aku,aku sakitin dia tapi dia tetap saja bertahan," kata Rahman.
"Itu tandanya dia benar-benar mencintai kau lah,bagaimana pula kau ini Man??" Alex menggeleng-geleng dengan heran.
"Biarkan sajalah,aku kan ngga cinta sama dia,"
"Ya sudah terserah kau sajalah,"
Rahman masih memandang Jenny dengan pandangan kesal. Tak lama hp Rahman mulai bergetar dan terlihat sebuah pesan dari Key. Dengan malas Rahman membuka pesan.
"Sayang,jangan lupa makan yah,aku sayang kamu," bunyi pesan singkat dari Key.
"Tanpa kamu suruh juga aku udah makan,aku bukan anak kecil," balas Rahman dengan kesal.

Jumat, 15 Mei 2015

Curahan hati anak korban Broken Home

Cinta itu buat gue adalah sesuatu hal yang berharga. Kenapa?? Pasti orang-orang bakal nanya begitu. Simple. Gue salah satu anak dari puluhan ribu atau mungkin bahkan jutaan anak korban broken home. Impian gue sederhana tapi ga mungkin bisa jadi nyata. Gue pengen suatu saat orang tua kandung gue bisa bareng lagi. Walau gue nyadar pasti akan lebih banyak lagi yang terluka,tapi kenapa disini gue yang harus ngalah?? Kenapa mereka semua bisa bahagia,tapi enggak dengan gue. Kenapa temen-temen gue yang punya kasih sayang cukup dari orang tua mereka malah banyak juga yang ngelunjak dan kurang ajar,sedangkan gue yang selalu ngehormatin orang tua gue malah harus hidup seperti ini...

Gue sadar gue ini bukan apa-apa,tapi gue pengen orang tua gue bangga punya gue. Gue pengen jadi seseorang yang di pandang orang meski gue kurang kasih sayang,gue pengen nunjukin ke dunia kalo anak korban broken home itu ga semuanya anak badung yang terperosok ke pergaulan bebas. Anak-anak korban broken home kayak gue adalah pencari perhatian. Ngelakuin hal-hal ga wajar biar orang tua kita liat kalo sebenernya kita ini terluka,kita butuh perhatian,kita butuh cinta dari mereka,dan kita ingin di mengerti. Dan kalau ga ada respon,frustasi itu selalu ada. Frustasi itu datang dan mencabik-cabik hati. Mungkin di sana banyak yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau minuman keras untuk melampiaskan kekecewaan. Gue sendiri pernah menelan 10 tablet paracetamol sekaligus di saat gue frustasi,dan nangis berjam-jam adalah hal biasa buat gue di saat gue masih ngga bisa menerima kenyataan kalo orang tua gue udah pisah dan punya keluarga masing-masing. Gue  selalu bilang ke Papah,"kenapa sih kalian cerai,kalo kalian ga cerai aku ngga bakal ngalamin kesedihan kayak gini,Mama sama Papah tuh ngga sayang ma aku,kalian cuma memikirkan perasaan kalian," dan tentu aja gue ngucapin kalimat itu via telfon karna Papa tinggal di pulau kecil bersama istrinya. Jawaban Papa simple,"kamu nanti pasti ngerti kenapa ini harus terjadi,kamu tau kan dulu gimana Papa mempertahankan semuanya,Papa kira kamu udah cukup besar untuk berpikir takdir ini,ingat nak apa yang kamu inginkan ga selamanya bisa tercapai."

Korban broken home adalah sebuah hati dengan luka yang tak akan bisa sembuh,tapi dengan seiring berjalannya waktu yang mungkin memerlukan waktu lama banget,dengan punya banyak temen-temen yang bisa bawa aura positif,dan yang paling penting adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah,luka itu akan sedikit terlupakan (bukan hilang). Gue sendiri walau sudah 12 tahun kejadian itu terjadi,gue masih suka nangis berjam-jam dan menyalahkan takdir. Gue adalah 1 dari jutaan anak yang mengalami hal kayak gini. Anak-anak broken home lain yang ngalamin hal kayak gue dan memilih hidup di jalan,mengkonsumsi obat-obatan,meminum miras,merokok dan mungkin yang ngelakuin seks bebas,mereka adalah seorang yang memerlukan perhatian lebih dan memilih cara yang salah. Tak ada kata terlambat,kalaupun ada yang sudah melakukan hal-hal tersebut,tinggalkan dan coba pilihlah jati diri kita. Kita masih bisa melakukan kegiatan positif,salurkan kekesalan hati yang mengganjal dengan cara positif,kita bisa menulis,melukis,menciptakan lagu,atau hal-hal positif lainnya. Jangan judge korban broken home,karna kami adalah anak yang juga ingin memiliki kebahagiaan seperti kalian.

Jumat, 17 April 2015

TENTANG KAMU YANG PERGI DAN AKU YANG MASIH DISINI.

Cinta. Satu kata yang tersirat banyak makna. Tanpa cinta tak ada kehidupan. Begitulah kira-kira banyak orang berkata.
Sore ini aku ingin menangis begitu mendengar dari bibir Devan sendiri jika ia tlah mempunyai kekasih baru.
"Ga usah tunggu aku lagi,aku udah dapetin kebahagiaan aku dan aku harap kamu juga mendapat kebahagiaan yang sama."ujar Devan,yakin.
Aku hanya menggenggam erat tasku,meski hatiku hancur namun aku tetap bertahan dengan senyum palsu di bibirku. "Kalo gitu selamat yah,"ucapku getir.
"Yaudah aku pergi dulu ya,aku mau jemput pacarku dulu nih,bye" Devan pamit dan memamerkan deretan gigi putihnya.
Aku menggangguk lemah dan masih dengan senyum palsu yang tersungging.
Aku memesan kopi hitam tanpa gula dan menekan dadaku yang sesak. Ada butiran bening yang mengalir tanpa ku sadari,perih ku rasa semakin menusuk. Devan telah 2 kali mengakhiri hubungan cinta yang kami lalui. Dan selalu dia yang meninggalkanku namun entah kenapa aku tak mampu menatap masa depanku tanpa dirinya. Ku akui aku bodoh, karena aku tetap menunggu Devan bahkan setelah 3 bulan yang lalu dia mengakhiri hubungan kami tanpa alasan yang pasti.

Devan memang pria biasa,namun di mataku dia sangatlah istimewa. Dia mampu membuatku bangkit,mampu membuatku mengerti apa itu hidup,dia semangat yang mengalir dalam otakku.

"Mba ini pesanan kopinya,"ucap seorang waitress laki-laki dengan lesung pipi. "Loh mba nangis??"tanyanya terkejut.

Aku segera menghapus air mataku dan tersenyum simpul. "Enggak tadi kelilipan," aku mengelak dan tersenyum.

"Udah deh mba,santai aja ma saya,cerita aja mba siapa tau saya bisa bantu," ujarnya dan tanpa sungkan duduk di bangku sebelahku.

"Aku ngga knapa-napa kok,"aku masih berusaha menutupi bendungan air mata yang siap jebol di mataku.

"Kadang hidup emang berat mba,mba harus bertahan,mba lagi terlilit hutang yah??sama seperti saya mba kalo gitu,saya kerja sana sini sampe kerja part time buat lunasin hutang orang tua saya yang udah bangkrut,berat mba hidup kita,tapi kita harus bertahan,semangat mba semangat buat kita bayar utang-utang kita," laki-laki berlesung pipi ini berbicara dengan semangat.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Segera ku minum kopi tanpa gula yang tadi ku pesan, aku memang suka minum kopi jenis ini jika perasaanku sedang buruk.

"Mba,itu kopi enggak pahit?" Tanyanya dengan muka tak percaya.

"Lebih pahit hidup saya mas kayaknya," aku kembali tersenyum getir.

"Ya ampun mba harus strong mba,semangat mba," ucapnya lagi.

"Radiiiiittttttttt," teriak seorang pelayan wanita dengan muka ketus.

"Mba,saya kerja dulu ya,inget mba semangat," ucapnya dan tergopoh-gopoh pergi.

Aku menggeleng tak percaya menatap punggungnya pergi menjauh. Aku memang sering mendatangi cafe ini,namun baru kali ini aku melihatnya. Mungkin dia pegawai baru karena setiap hari aku kesini namun tak pernah melihatnya.

Aku mencintai Devan,walau aku tau sangatlah tak mungkin jika aku bisa kembali bersamanya. Devan telah miliki kekasih baru yang sudah pasti lebih baik dari aku. Aku harus melanjutkan hidup walau pada 2 tahun yang lalupun aku tetap tak bisa meninggalkan bayangan Devan. Aku sangat mencintainya,aku sungguh akan menanti dirinya,meski waktuku mungkin akan habis untuk menunggunya.

Aku memandang ke luar cafe yang penuh dengan lalu lalang kendaraan. Ku pandang laptop di depanku, sebuah foto Devan yang masih menjadi background laptop. Senja semakin menjauh,seperti Devan yang juga kembali meninggalkanku.